Feeds:
Posts
Comments

Ibukota Jakarta atau kota-kota besar lainnya di Indonesia seringkali dipusingkan oleh arus urbanisasi dari desa. Jakarta atau kota-kota besar tersebut sungguh menarik dan telah menjadi mimpi indah bagi kebanyakan orang-orang yang tinggal di desa. Oleh karenanya, pada musim-musim tertentu seperti pasca lebaran, berduyun-duyunlah orang-orang desa masuk kota. Mereka tidak perduli dengan keterampilan yang mereka miliki. Dengan segala keterbatasan, mereka tetap nekat untuk mengadu nasib ke kota. Konsekwensinya, mereka tidak mampu berkompetisi yang membuat mereka jadi pengangguran. Mereka tidak produktif dan akhirnya menjadi beban bagi kota yang didatangi.

Mengatasi masalah urbanisasi dari desa ke kota ini tidaklah mudah. Kota Jakarta dengan opearasi yustisinya toh juga belum memberikan hasil yang optimal. Demikian juga dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia denga berbagai program dadakannya. Program-program instan yang dilakukan dinilai tak akan memberikan hasil yang positif dalam rangka menanagani isu urbanisasi ini. Pola klasik namun sangat rasional yang diharapkan bisa menyelesaikan masalah ini adalah dengan membangun atau mengadakan berbagai lapangan kerja di desa sehingga kesenjangan jumlah kesempatan kerja di kota dan di desa tidak terlalu mencolok. Kata kuncinya adalah menciptakan lapangan kerja di desa. Berangkat dari realitas inilah, setelah 15 tahun menetap di kota Balikpapan dengan sedikit modal yang ada, Bismillah, saya berniat pulang kampung untuk membangun tanah kelahiran saya dengan membuat lapangan kerja bagi kakak dan adik-adik saya serta kerabat dan handai taulan yang bermukim di desa supaya mereka tidak menjadi beban bagi negara. InsyaALLAH !

Balikpapan, 1 Syawal 1432 H – 1 September 2011

Syamsul Aematis Zarnuji

Desa Senayan-Poto Tano

Kab. Sumbawa Barat-NTB

Dalam beberapa bulan ke depan, ada dua kegiatan penelitian yang akan saya laksanakan. Pertama, penelitian terkait dengan penyelesaian studi S-2 saya dalam bidang pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Judul penelitian untuk THESIS saya ini adalah : MODELS OF ENGLISH LESSON PLANNING AND INSTRUCTIONAL ACTIVITIES : A CASE STUDY CONDUCTED AT SMK NEGERI 1 BALIKPAPAN. Untuk mengetahui lebih jauh tentang penelitian ini, dapat dibaca di tautan berikut ini; Thesis Preliminary Proposal

Penelitian saya yang kedua terkait dengan Program Penelitian Dosen Mandiri yang disponsori oleh Politeknik Balikpapan [Tentu jika proposal penelitian yang insyaAllah akan saya ajukan dalam waktu dekat ini disetujui oleh UPPM Politeknik Balikpapan]. Judul penelitian kedua saya ini adalah: EFEKTIFITAS PELAKSANAAN BANTUAN BIAYA PENDIDIKAN PADA SEKOLAH SWASTA DI KOTA BALIKPAPAN. Informasi lebih rinci tentang penelitian ini dapat dibaca dalam tautan berikut ini ; Proposal Penelitian Dosen Mandiri 2011

Balikpapan, 6 September 2011
SAZ

Sebagai pelanggan yang cukup lama dan setia dengan kartu HALO, saya selalu berharap TELKOMSEL dapat memberi sedikit perhatian kepada pelanggan seperti saya dalam bentuk non finansial sekalipun. Sebut saja misalnya, peliputan atau penayangan profil pelanggan HALO atau produk TELKOMSEL lainnya pada media-media informasi atau promosi yang diluncurkannya. Salah satu yang selalu saya ikuti adalah tayangan profil pelanggan/tokoh di radio SMART FM Balikpapan. Jika saya perhatikan dari lamanya para pelanggan atau tokoh yang bersangkutan menjadi pelanggan Kartu HALO atau produk TELKOMSEL lainnya yang ditampilkan dalam acara tersebut, saya harus katakan bahwa sebagian besar dari mereka masih ‘hijau’ soal kesetiaan pada sebuah produk. Tapi yang mengherankan, mereka mendapatkan ’privilege’ yang lebih dibandingkan dengan pelanggan-pelanggan seperti saya dari TELKOMSEL. Saya menduga ‘privilege’ ini mereka dapatkan karena mereka adalah pelanggan yang dianggap sebagai tokoh dalam sebuah komunitas tertentu atau karena mereka punya banyak uang yang diberikan keapada TELKOMSEL melalui pembayaran ‘phone billing’ setiap bulannya. Sementara, pelanggan-pelanggan seperti saya, disamping tidak punya ‘pundi’ yang cukup besar, ketokohannya pun seringkali dimarjinalisasikan oleh kebanyakan masyarakat kita, mungkin juga oleh TEKOMSEL dalam konteks dan filosofi ‘customer care’ yang dianutnya.

Seorang pelanggan yang berprofesi sebagai guru, dalam perspektif bisnis yang dianut oleh TELKOMSEL, bisa jadi dipandang tidak memiliki ‘nilai jual’ yang cukup dalam rangka menaikkan derajat korporasi dimata publik atau bisa saja karena guru dianggap tidak mampu menjadi agen yang dapat mengubah atau membangun image sebagai basis pengkreasian ‘buyers network’ atas sebuah produk yang sedang dipasarkan. Dengan demikian, berapapun lama dan sesetia apapun seorang pelanggan yang berlatar belakang profesi sebagai guru seperti saya terhadap produk tersebut, dimata korporasi yang menganut filosofi bisnis seperti ini, keberadaan pelanggan seperti dimaksud boleh jadi belum patut diperhitungkan.

Kalau filosofi ini kemudian yang dianut oleh TELKOMSEL dalam menjalankan bisnisnya sehingga para pelanggan yang berlatar belakang dan memiliki status sosial seperti saya kurang diperhatikan, saya dengan berat hati harus legowo menurunkan kadar kebanggaan yang saya miliki atas korporasi ini dalam waktu lebih dari satu dekade terakhir ini. Saya juga harus berani mengatakan bahwa TELKOMSEL telah salah dalam memaknai dan memposisikan pelanggannya yang berlatar belakang guru seperti saya. TELKOMSEL telah gagal melihat peran lain yang cukup potensial dalam perspektif bisnis tentunya yang mampu dimainkan oleh seorang guru selain fungsi edukasi dan sosial yang selalu melekat dan tak terelakkan dalam dirinya.

 

Perusahaan-perusahaan yang menganut filosofi  seperti ini bisa jadi meyakini bahwa hanya tokoh-tokoh politik, pejabat, bintang film, penyanyi, pelawak dan profesi-profesi yang kadangkala bisa diraih secara instan tersebut saja yang mampu mengubah dan membangun image ’target market’ yang dinginkannya. Mereka lupa bahwa guru sejatinya begitu amat dekat dengan ’target market’ tersebut.  Guru, tanpa bisa difungkiri, telah menjadi salah satu bagian dari sebuah profesi dan status sosial masyarakat yang membawa misi pembaharuan ide, gagasan dan image  atas sesuatu hal. Guru juga, sebagaimana tokoh-tokoh politik  dan pejabat-pejabat yang ’distimewakan’ oleh TELKOMSEL tersebut, memiliki ’massa’ yang jumlahnya begitu banyak dan bertambah dari tahun ke tahun yang berpotensi dijadikan ’target market’ atas produk yang hendak dipasarkannya. Potensi-potensi seperti ini justru seringkali mampu dibaca oleh pihak-pihak yang notabene bukan representasi dan korporasi yang menjadi backbone perekonomian negara kita. Eksistensi guru sebagai ’agent of change’ dalam persoalan ide, gagasan dan image malah dimanfaatkan di satu sisi, namun termuliakan di sisi lain, oleh organisasi-organisasi yang bukan dimiliki oleh bangsa kita.

 

Dalam berbagai ajang internasional yang pernah saya ikuti dalam lima tahun terakhir ini dimana guru dari berbagai belahan dunia terlibat di dalamnya, saya selalu mendapatkan jawaban yang sama ketika saya bertanya mengapa guru diberikan kesempatan yang begitu luas dan diistimewakan dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Mengapa oraginasi-organisasi yang secara faktual bukan milik bangsa ini tetapi dengan begitu antusias menempatkan orang-orang seperti saya pada posisi yang istimewa ? Mengapa setiap kali kunjungan saya ke negara adidaya seperti Amerika Serikat, saya selalu diberikan kesempatan menjadi tamu kehormatan dan berbicara di salah satu jaringan televisi dan radio terbesar di dunia; Voice of America, sementara di Indonesia, untuk tampil sebagai salah satu tamu TELKOMSEL melalui jaringan radio SMART FM saja begitu sulit diwujudkan. Jawaban mereka atas pertanayaan-pertanyaan tersebut tak lain dan tak bukan karena guru memiliki peran yang tidak kalah penting dan kuat dalam rangka membangun persepsi atas berbagai hal. Satu kata seorang guru bisa menjadi beratus-ratus bahkan beribu-ribu kata ketika hal itu disampaikan kepada siswa-siswinya, tidak terkecuali ketika sebuah korporasi ingin memperkenalkan produk yang diciptakannya.

 

Kalau demikian adanya, masihkan TELKOMSEL memarjinalisasikan pelanggan dengan latar belakang, profesi dan status sosial seperti ini dalam berbagai kegiatan ’customer care’ yang dijalankannya ? Selamat  Hari Guru 25 November 2010 ! Jayalah Guruku, Jayalah Negeriku dan Jayalah Bangsaku !

 

Salam,

 

Syamsul Aematis Zarnuji – www.zarnuji.blogspot.com

SMK NEGERI 1 BALIKPAPAN bekerjasam dengan InWent (International Weiterbuildung und Entwicklung) gGmbH, sebuah organisasi non profit yang berkedudukan di Jerman dan memfokuskan diri pada pengembangan sumber daya manusia akan menyelengarakan sebuah ajang berskala internasional di kota Balikpapan berupa WORKSHOP TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE (TPM) mulai tanggal 11 s.d. 21 Oktober 2010. Tujuan pelaksanaan workshop ini adalah untuk membekali para peserta dengan pengetahuan dan keterampilan penanganan perawatan fasilitas dan infrastruktur lembaga/sekolah/perusahaan baik yang bersifat teknis maupun non teknis sehingga mampu meningkatkan equipment productivity, mengurangi equipment downtime, menurunkan maintenance & production cost, meningkatkan return on investement, meningkatkan plant capacity, mendekati zero defect serta meningkatkan kepuasan kerja.

Workshop yang rencananya akan dibuka oleh Walikota Balikpapan tanggal 11 Oktober 2010 di Aula Rumah Jabatan Walikota Balikpapan ini akan menghadirkan para nara sumber yang telah memiliki pengalaman internasional dalam bidang perawatan dan pemelharan alat dan infrastruktur yang berasal dari Jerman dan Indonesia. Sedangkan peserta kegiatan ini berasal dari berbagai wilayah di Indonesia mulai dari pejabat teras Direktorat PSMK Kemendiknas Jakarta, Kepala P4TK Malang, pimpinan beberapa perusahaan multinasional di Balikpapan hingga para dosen dan guru SMK di wilayah Provinsi Kalimantan Timur.

Pelaksanaan sebagian besar sesi workshop akan dipusatkan di SMK Negeri 1 Balikpapan yang didukung oleh beberapa perusahan di kota Balikpapan sebagai tempat studi langsung [first hand learning] para peserta terkait dengan pelaksanaan perawatan. Sedangkan pembiayaan workshop TPM ini ditanggung secara bersama-sama oleh Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur, SMK Negeri 1 BALIKPAPAN dan InWent (International Weiterbuildung und Entwicklung) gGmbH, Germany.

Pengakuan atau rekognisi kompetensi yang diperoleh oleh peserta workshop setelah mengikuti kegiatan ini diberikan oleh INWENT gGmbH GERMANY dalam bentuk SERTIFIKAT KOMPETENSI yang berlaku secara internasional.

Pendaftaran Peserta telah dilakukan sejak tanggal 24 September s.d. 2 Oktober 2010. Formulir pendaftaran diterima paling lambat tanggal 2 Oktober 2010  Jam  22.00 Wita) dengan cara diantar langsung atau melalui  E-mail/Faximile ke SEKRETARIAT PANITIA : SMK NEGERI 1 BALIKPAPAN, Jalan Marsma R. Iswahyudi, Sepinggan-Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur, Kode Pos : 76115, Telp. 0542 – 761 941, Fax. 0542 – 761 985, E-mail : pubaffairs.smkn1bpn@yahoo.com.

Untuk infrmasi lebih lanjut, silahkan hubungi :

  1. Syamsul Aematis Zarnuji, S.Pd (Ketua Panitia) HP. 0811 531 471
  2. Drs. Makruf (Kordinator Publikasi & Dokumentasi) HP. 0812 5842 307

kpu1Hampir setiap spanduk, baliho, leflet, brosur dan berbagai jenis media sosialisasi pemilu lainnya selalu saja mencantumkan kata ‘contreng’ dalam beberapa bulan terakhir ini. Demikian juga dalam berbagai pertemuan sosialisasi pemilu yang digelar oleh berbagai ormas dan instansi  pemerintah. Setiap petugas yang menjelaskan tata cara pemilu selalu saja menyebut kata ‘contreng’ ini. Saking ‘demam’ dengan kata yang satu ini, salah satu statusun TV swasta nasional mengemas kata ini dalam sosok tokoh Mang Contreng yang kocak dan menggelitik dengan dialek Sunda-nya yang khas. Walaupun saban hari saya membaca dan mendengarnya, kata ‘contreng’ ini kok nggak bersahabat dengan mata dan telinga saya. Setiap membaca atau mendengarnya, selalu saja ada perasaan yang mengganjal. Apakah sudah benar kata ‘contreng’ ini dipakai dalam konteks yang diinginkan KPU dalam sosialisasi yang dilaksanakannya itu ? Setahu saya, tak pernah satupun guru bahasa Indonesia saya memperkenalkan kata ini baik ketika saya SD, SMP, SMA maupun ketika mengambil mata kuliah bahasa Indonesia di bangku kluiah dulu. Yang saya tahu hanya ‘centang’ atau ‘conteng’. Kalau pertimbangan pengguna memilih kata ’contreng’ itu karena kata tersebut merupakan kata bentukan yang berasal dari ‘conteng’, pun hal tersebut tak sepenuhnya benar mengingat makna kata ‘conteng’ sendiri tidak sama persis dengan ‘centang’ yang semestinya dipakai dalam konteks yang diinginkan KPU tersebut. Lalu, apa sih perbedaannya antara centang, conteng dan contreng ? Mengapa pengguna lebih memilih kata ‘contreng’ ? Karena penasaran, saya tanya saja sama Kang Google. Apa jawabannya ? Silahkan dibaca tulisan Tarmizi Ramadhan dalam http://tarmizi.wordpress.com/2009/03/20/contreng-centang-conteng/ berikut ini, walupun untuk alasan mengapa, saya belum puas dengannya :-)

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tidak ditemukan  kata contreng. Kata ini populer ketika suatu lembaga (KPU)  dan Parpol mensosialisasikan cara pemilihan dengan contreng. Agar tidak terjadi kesalahtafsiran, istilah contreng tergolong kata yang tidak baku. Bagi kalangan tertentu (partai politik) kata contreng mungkin tidak banyak dipersoalkan, tetapi bagi kalangan pengguna Bahasa Indonesia yang baik dan benar kata contreng belum dibenarkan. “Ada yang berpendapat bahwa yang penting rakyat mengerti. Jadi, penggunaan kata atau istilah apa pun boleh-boleh saja.”  Menurut hemat penulis penggunaan contreng termasuk arbiter (semena-mena atau sesukanya) dan hanya berlaku untuk kalangan terbatas (meskipun kata itu belum dibakukan dalam Bahasa Indonesia).

Centang

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), centang memiliki makna sebagai berikut:

  • cen·tang /céntang/ (nomina), yang berarti ‘tanda koreksi, bentuknya seperti huruf V atau tanda cawang.’ Jika diberi awalan /me-/ menjadi men·cen·tang (verba) yang berarti  ‘membubuhi coretan tanda koreksi (V);
  • Jika cen·tang /céntang/ dijadikan bentuk perulangan, menjadi  cen·tang-pe·re·nang (ajektiva), yang berarti ‘tidak beraturan letaknya (malang melintang dsb.); porak-parik; berantakan.’ Contoh: Segalanya centang-perenang di ruangan itu .
  • ke·cen·tang-pe·re·nang·an (nomina), yang berarti ‘keadaan yang centang-perentang.’ Contoh: Kecentang-perenangan dalam mengatur jadwal sering terjadi jika dilakukan terburu-buru .

Kata  ‘centang ’ dipakai di dalam Pasal 26 ayat (3) butir g angka 2), 3), dan 4) Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 3 Tahun 2009 yang isinya, yaitu:

tata cara pemberian suara pada surat suara, ditentukan:

  1. menggunakan alat yang telah disediakan;
  2. dalam bentuk tanda V (centang ) atau sebutan lainnya ;
  3. pemberian tanda V (centang ) atau sebutan lain , dilakukan satu kali pada kolom nama partai atau kolom nomor calon atau kolom nama calon anggota DPR/DPRD Provinsi/DPRD Kabupaten/Kota;
  4. pemberian tanda V (centang) atau sebutan lain dilakukan satu kali pada foto salah satu calon anggota DPD;

Conteng

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), conteng memiliki makna sebagai berikut:

  • con·teng /conténg/ (nomina), yang berarti coret (palit) dengan jelaga, arang, dsb.; coreng;
  • ber·con·teng-con·teng (verba), yang berarti ‘ada conteng-contengnya; bercoreng-coreng (dengan arang, jelaga, dsb.).’ Contoh: Mukanya berconteng-conteng; Papan tulis itu berconteng-conteng dengan kapur.
  • men·con·teng (verba), yang berarti ‘mencoreng dengan arang (tinta, cat, dsb.).’ Contoh: Anak itu menconteng alisnya dengan arang; Menconteng arang di muka. (peribahasa), yang artinya ‘memberi malu.’
  • men·con·teng-con·teng (verba), artinya ‘mencoreng-coreng (memalit-malit, mencoret-coret) dengan arang (tinta, kapur, dsb.).’ Contoh: Anak itu menconteng-conteng dinding rumah kami .
  • men·con·teng·kan (verba), artinya ‘mencorengkan; memalitkan.’  Contoh: Ibarat mencontengkan arang di dahi sendiri (Peribahasa).
  • ter·con·teng (verba), memliki dua arti: 1. ’sudah diconteng(kan); 2. kena noda (aib, malu). Contoh: Terconteng arang di muka. (Peribahasa), yang artinya ‘mendapat malu.’

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa “contreng termasuk istilah belum baku. Menurut hemat penulis kata  “contreng ini baru muncul pada saat seseorang memberikan sosialisasi menjelang Pemilu 2009. Hal ini terjadi karena di dalam Pasal 26 ayat (3) butir g angka 2) dan 3) Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 3 Tahun 2009 memungkinkan seseorang menggunakan sebutan lainnya . Oleh karena itu, muncullah istilah contreng. Oleh sebagian orang, hal itu turut dibenarkan dan turut pula disosialisasikan kepada masyarakat, padahal dalam Bahasa Indonesia maknanya belum ditemukan. (Red: tantangan bagi Penyusun Kamus Bahasa Indonesia).

Kata “centang merupakan istilah yang baku. Tandacentang berarti pula memberikan tanda check atau tanda koreksi (V). Jika di dalam pemilihan umum nanti yang dimaksdukan memberi tanda check atau tanda koreksi (V) pada nomor atau angka seorang calon maka  pemakaian kata “centang lebih tepat digunakan.

Kata “conteng memang tergolong kata baku, namun kata “conteng kurang tepat jika dipakai dalam konteks Pemilihan Umum 2009, sebab akan banyak bentuk coretan yang dilakukan masyarakat. Secara etimologi ‘conteng’ berarti coret. Yang dimaksud dengan coret dapat berarti memberi tanda check (V), silang (X), = (sama dengan), atau coreng dengan tinta, arang, atau apa saja.

Sejak Google meluncurkan produk barunya; Google Translate Beta TM yang men-support penerjemahan dari Bahasa Indonesia ke berbagai bahasa lainnya atau dari berbagai bahasa lainnya ke bahasa Indonesia: http://translate.google.com/translate_t# pada tanggal 25 September yang lalu, saya telah ‘mengacak-acak’ program ini, tidak hanya terkait dengan penggunaan translating tool tersebut tetapi juga pandangan atau kajian berbagai pihak terkait hal ini. Saya juga telah mencoba menerjemah mulai dari teks yang saya ketik secara manual hingga isi blog saya secara keseluruhan baik dari Bahasa Indonesa ke Bahasa Inggris maupun sebaliknya yang dilakukan oleh mesin penerjemah ini secara otomatis dengan sangat cepat. Hasilnya ? ‘Luar biasa’ :-) ! Saya akan uraikan hal ini lebih detail dala kesempatan yang lain. Tidak hanya itu, saya juga telah mencoba melakukan penerjemahan tersebut per paragrap, kalimat, frase dan kata. Semua ini saya lakukan sebagai ‘preliminary action’ untuk penelitian kecil-kecilan saya terkait mata kuliah Teknologi Pendidikan yang sedang saya ikuti saat ini. Karena masih treatment awal, saya belum bisa menyimpulkan hal-hal yang menggelitik pikiran saya; salah satunya adalah sistem kerja alat tersebut jika dikaitkan dengan kaidah bahasa dalam proses penerjemahannya itu.

 Sementara ini yang bisa saya simpulkan adalah alat ini tetap bisa membantu seseorang dalam proses penerjemahan tentu dengan beberapa persyaratan. Dalam tingkatan, situasi dan kondisi tertentu, kualitas penerjemahan yang dilakukan oleh google translate tetap masih berada dibawah kualitas penerjemahan yang dilakukan oleh seorang penerjemah profesional.  Salah satu penyebabnya adalah karena alat ini tidak mengenal kaidah bahasa di luar ranah tekstual padahal dalam setiap kegiatan penerjemahan, hal-hal di luar ranah tersebut [baca:kontekstual] tidak bisa diabaikan.

 Dari hasil terjemahan yang masih sangat terbatas sebagai obyek utama penelitian ini, Ada eberapa hipotesa telah saya buat. Salah satunya adalah adanya kecenderungan alat ini bekerja lebih baik jika penerjemahan tersebut dilakukan dari elemen bahasa yang lebih kecil seperti dari kata-kata, frase, kalimat dan paragraph, tentu dengan tambahan tretament dari orang yang melakukan penerjemahan tersebut. Ulasan lebih detail akan saya sampaikan pada tulisan saya di www.myvirtualviews.wordpress.com pada kesempatan yang lain. Selamat ber-Google Translate, semoga bisa membantu !

 salam

 Syamsul – Owner www.myvirtualviews.wordpress.com

Saya begitu tergelitik melihat eforia ‘masyarakat kita’ yang begitu menggandrungi film laskar pelangi yang baru saja mulai ditayangkan di beberapa bioskop di tanah air beberapa waktu yang lalu. Saking tak tahan untuk berkomentar, tulisan tentang kuliner favorit saya yang belum sempat rampung harus saya tinggalkan untuk beberapa saat. Memangnya kenapa ? Ada apa dengan film laskar pelangi ?

Coba bayangkan, dalam dua minggu terakhir ini saja, sejak penayangan perdananya tangal 25 September 2008 lalu, film ini sudah mampu menyedot perhatian tidak kurang dari 1.3 juta penonton. Padahal itu baru dilakukan di beberapa kota saja dan dalam suasana disaat kebanyakan masyarakat kita disibukkan dengan kegiatan perayaan hari raya idul fitri 1429 H. Walaupun dalam suasana lebaran, banyak sekali kalangan mulai dari para ibu rumah tangga, anak-anak, pelajar, mahasiswa, pegawai, pejabat hingga selebriti papan atas yang rela merogoh koceknya plus antri berjam-jam bahkan berhari-hari untuk sekedar mendapatkan selembar tiket agar bisa menonton film yang katanya sangat membumi tersebut. ‘Kehebohan’ ini tidak serta merta berakhir sampai di situ. Tak tanggung-tanggung, tokoh sekelas presiden Susilo Bambang Yudoyono pun plus para menterinya masih menyempatkan diri menonton film yang diakuai beberapa kalangan tidak ‘semolek’ cerita dalam buku darimana film ini diangkat [baca : http://entertainment.kompas.com/read/xml/2008/10/09/e081428/laskar.pelangi.tembus.13.juta.penonton, http://www.detiknews.com/read/2008/09/28/192420/1013856/10/film-laskar-pelangi-tak-kalah-laris-dengan-novelnya, http://laskarpelangithemovie.blogspot.com/, http://almaokay.wordpress.com/2008/05/30/casting-film-laskar-pelangi-halahkok-dia-lagi/, http://manda.getux.com/2008/09/26/gak-begitu-suka-film-laskar-pelangi/ dan beberapa komentar di berbagai blog dan milis beberapa hari terakhir ini].  Lalu apa sebenarnya yang membuat film yang diproduksi oleh istri aktor kondang Mathias Mucus ini begitu digandrungi ?

Jujur, saya belum pernah membaca novel tulisan Andrea Hirata yang menjadi inspirasi sekaligus referensi pembuatan film Laskar Pelangi itu. Saya juga belum pernah menonton film tersebut karena memang saya tidak ingin dan tak akan tergoda untuk menontonnya. Tetapi bukan berarti saya tidak tau ‘ruh’ dan pesan yang ingin disampaikannya. Dari berbagai resensi dan sinopsis yang pernah saya baca serta berbagai diskusi yang saya ikuti di beberapa media terkait dengan baik novel maupun film Laskar Pelangi, saya bisa menangkap kalau ‘ruh’ dan pesan moral yang ingin disampaikan dalam karya ‘fenomenal’ tersebut tak lebih dan tak kurang bahwa di balik hiruk pikuk, riuh rendah, suka cita dan ‘kegelamoran’ kehidupan anak negeri di berbagai kota besar di republik ini, nun jauh di sana, di pelosok bumi nusantara ini masih ada sekolompok anak negeri yang lain [para guru dan siswanya] yang dengan segala keterbatasan secara materiil namun tetap memilki idealisme, dedikasi dan semangat juang yang pantang menyerah untuk berbuat lebih baik bagi kemajuan pendidikan mereka. Oleh karenanya, dengan ini, kita diharapkan menjadi lebih sadar akan betapa pentingnya pendidikan bagi negeri ini, terlebih lagi bagi masyarakat Belitong yang miskin dan terpinggirkan [baca : http://id.wikipedia.org/wiki/Laskar_Pelangi_(film) dan http://www.kompas.com/read/xml/2008/09/22/20302997/andrea.hirata.takjub.film.laskar.pelangi].

Menelisik ‘ruh’ dan pesan moral yang ingin disampaikan dalam film yang digarap oleh sutradara yang pernah menerima ‘chevening award’ tersebut, tanpa mengurangi rasa hormat dan kekaguman saya pada Andrea Hirata, Mira Lesmana, Riri Riza, dll, saya sejauh ini belum menemukan sesuatu yang baru yang untuk ukuran kesederhanaan dan kefafaan hidup masa kecil saya akan mampu menarik saya larut dalam ‘story plotting’ yang ingin dipertontonkannya. Cerita pengabdian seorang guru, perjuangan seorang anak dengan segala kekurangan dan kefafaan demi sebuah pendidikan seperti digambarkan dalam film Laskar Pelangi tersebut bukan lagi menjadi ‘barang mewah’ bagi saya, keluarga saya dan komunitas dimana saya menghabiskan masa kecil saya. Ia bukan lagi tertoreh hanya di atas kertas atau menjelma di layar kaca sebagaimana film Laskar Pelangi tetapi telah menjadi salah satu episode dalam kehidupan saya, keluarga saya dan komunitas dimana saya sekolah dulu. Ia telah menjadi bagian dan mengisi sisi-sisi kehidupan bahkan masuk dalam relung kalbu saya yang tidak akan pernah terlupakan sampai akhir hayat saya dengan atau tanpa kehadiran film Laskar Pelangi sekalipun. Itulah mengapa ‘ruh’ cerita yang dipertontonkan dalam film Laskar Pelangi terasa hambar buat saya bahkan mungkin buat anak-anak yang saat ini mengalami hal yang sama seperti saya atau tokoh-tokoh dalam film Laskar Pelangi tersebut. Bagi saya dan mungkin juga bagi orang-orang yang telah melewati fase kehidupan seperti dikisahkan dalam film Laskar Pelangi, mengikuti dan menonton ‘story plotting’ film tersebut tak akan lebih dari sebuah kegitan bernostalgia di alam maya saja. Singkatnya, sejauh ini saya belum punya cukup alasan untuk tergoda membeli selembar tiket apalagi harus antri berjam-jam hanya untuk bisa menyaksikan kemolekan akting Cut Mini, Matias Muchus, Tora Sudiro, dll. dalam balutan cerita masa kecil saya itu.

Mungkin ada yang beralasan bahwa menonton film Laskar Pelangi akan membuat kita menjadi lebih sadar akan betapa pentingnya pendidikan di negeri ini. Ia bisa menjadi inspirasi bagi kita dalam memahami dan berbuat untuk kemajuan pendidikan kita.  Alasan ini tentu tidak salah namun terlalu naif kalau penyadaran akan arti pentingnya sebuah pendidikan harus ditemukan hanya dalam sekelumit cerita yang sejatinya telah menjadi bagian hidup kita sehari-hari. Coba tengok di sekitar kita, sesungguhnya masih ada, kalau tidak mau disebut banyak, guru-guru kita yang menjalani alur hidupnya seperti yang dilakukan Ibu Mus. Coba juga lihat, buka mata dan telinga kita, begitu banyak anak-anak yang menjalani hidupnya serupa dengan apa yang dilakukan oleh anak-anak sekolah dalam film Laskar Pelangi tersebut. Ini bukan mimpi. Ini bukan torehan tinta. Ini juga bukan hasil kreasi anak negeri dengan berbagai teknologi yang memerlukan biaya tinggi. Tapi ini sebuah realita, sesuatu yang nyata dan dapat kita rasakan dan lihat dengan kasat mata saat ini. Mengapa penyadaran itu harus dicari dalam sebuah bingkai sinematografi sementara apa yang ditayangkan dalam film tersebut telah ada bahkan berserakan di sekeliling kita. Sungguh sebuah ironi !

Lebih jauh daripada itu, bukankah kesadaran akan arti pentingnya pendidikan itu telah dimiliki oleh hampir setiap ummat manusia yang hidup di kosmos bumi ini ? Coba tanya orang di sekeliling anda, jangankan orang berpendidikan, orang yang tidak pernah duduk di bangku SD-pun akan mengatakan hal yang sama ketika ditanya seberapa penting arti pendidikan bagi mereka. Dari bapak-ibu pejabat kita, pegawai tinggi, pegawai rendahan, tukang ojek hingga kuli bangunan di negeri ini akan mengelaborasi jawaban yang kurang lebih sama bahwa pendidikan itu amat penting bagi mereka, anda dan negeri tercinta ini. Jawaban ini menunjukkan bahwa mereka telah sadar akan arti pentingnya pendidikan tanpa terlebih dahulu disuguhkan dengan tayangan-tayangan seperti film laskar pelangi. Yang menjadi permasalahan kemudian adalah terlalu sedikit dari penguni kosmos bumi Indonesia ini yang mau dan mampu mengambil langkah nyata yang benar dalam menyikapi arti pentingnya pendidikan bagi kelangsungan hidup mereka dan generasai yang akan ditinggalkannya kelak di negeri ini. Bisakah Laskar Pelangi menjadi ‘pemantik’ api perubahan bagi komunitas seperti ini ? Wallahualam Bissawaf.

Kembali ke soal kegandrungan ‘masyarakat kita’ memonton film Laskar Pelangi, juga film-film sejenis yang sedikit berani keluar dari ‘pakem’ kebanyakan, saya melihat hal ini tidak semata-mata dikarenakan oleh kualitas penyuguhan karya sinematografi tersebut yang merupakan hasil kreasi dari sineas-sineas muda terbaik di negeri ini. Juga bukan saja karena alur ceritanya yang membumi yang katanya mampu memberi inspirasi yang luar biasa itu. Tapi lebih jauh daripada itu, ‘provokasi’ media massa telah mampu memberi kontribusi yang ‘cukup’ dahsyat bagi ‘kegandrungan masyarakat kita tersebut’ [baca : http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/28/02122926/hasrat.bertutur.laskar.pelangi]. Media massa telah mampu memainkan peran strategisnya dalam pembentukan opini publik terhadap kehadiran film Laskar Pelangi dan karya-karya sinematografi sejenis lainnya. Kemampuan komunikasi penulis, produser, sutradara yang diback-up oleh promosi dan iklan di media massa telah mampu mengantarkan film Laskar Pelangi, Ayat-Ayat Cinta, Petualangan Sherina, dll. menjadi sebuah karya yang ‘digandrungi’ oleh sebagian besar masayarakat kita walupun hanya menyuguhkan ide cerita yang biasa-biasa saja. Ketajaman ‘business sense’ yang dimainkan oleh para kru yang terlibat dalam pembuatan film-film tersebut telah mampu, pada tingkat yang paling tinggi, memunculkan sebuah kefanatikan yang dapat kita lihat, dengar atau baca dalam ungkapan ‘ kalau anda tidak nonton film ini, anda kuno, anda ketinggalan jaman, anda katrok, anda jadul’ dan anda… dengan berbagai elemen yang serba keterbelakangan. 

Selain ‘provokasi’ media massa, keletihan dan kedahagaan masyarakat kita terhadap berbagai tontonan dan tayangan yang cenderung monoton dan homogen seperti yang kita bisa saksikan selama ini telah memicu hasrat mereka untuk beralih kepada hal-hal yang baru yang keluar dari pakem tersebut. Komunitas masyarakat ini sangat mendambakan film-film yang mampu memberi mereka sesuatu yang berbeda yang bisa jadi memberi inspirasi untuk menjadi lebih baik. Dalam konteks ini, hemat saya, film Laskar Pelangi telah mampu menjadi salah satu pemenuhan hasrat ‘pengembaraan’ mereka.

All in all, dalam takaran-takaran tertentu, budaya hedonistik telah menjangkit sebagian masyarakat kita yang selalu dahaga akan kesenangan sesaat. Ketika sebuah karya apapun bentuknya mampu memberikan kesenangan walaupun hanya sebatas bernostalgia dengan masa lalunya sesaat saja atau berimajinasi untuk melakukan sesuatu dalam hidupnya maka berbagai usaha mereka lakukan demi mendapatkan hal tersebut. Untuk sebuah karya seni seperti film Laskar Pelangi atau film-film yang lainnya tentu tetap masih memberi peluang bagi kelompok masyarakat seperti ini untuk menggandrungi hal tersebut.

Terlepas dari ketidaktertarikan saya untuk menonton film yang dibintangi oleh salah satu aktor favorit saya tersebut, saya angkat topi dan salut buat seluruh kru yang telah bekerja keras mewujudkan sebuah karya seni anak negeri yang berani tampil berbeda dengan karya seni sejenis lainnya. Seperti halnya saya yang dengan segala berat hati bisa jadi berbeda pandangan dengan sebagian besar penduduk negeri ini terhadap sebuah fenomena sosial dalam dunia sinematografi kita. Semoga bermanfaat.

 

Balikpapan, 09 Oktober 2008

Syamsul Aematis Zarnuji-Owner www.myvirtualvews.wordpress.com

Walaupun agak terlambat, di hari yang ketujuh perayaan hari raya idul fitri 1429 H ini, perkenankanlah saya dan keluarga mengucapkan SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1429 H, MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN kepada seluruh pembaca, terutama yang telah menjalin silaturrahmi dengan kami dimana pun berada. Semoga kefitrian baik zahir maupun bathin masih tetap terjaga dan terus terpatri diantara kita semua.

Setiap kali perayaan hari raya idul fitri selalu saja ada yang istimewa di dalam keluarga kami. Istimewa bukan karena mewah, megah atau serba glamour seperti yang seringkali ditampilkan oleh beberapa selebriti papan atas  di negeri ini. Dia istimewa karena perbedaannya.

Pada perayaan-perayaan hari raya idul fitri sebelumnya, sehabis sholat Ied saya dan keluarga [istri dan kedua anak saya; Muhdarul: www.muhdarul.multiply.com, Zhafira: www.zhafiraku.multiply.com] selalu berkumpul menikmati ketupat dan opor ayam masakan khas istri saya setelah acara sungkeman ala Jawa campur Sumbawa kami lewati. Demi hidangan khas lebaran tersebut, istri saya selalu saja dengan rela melakukan kerja ’ekstra’ sehari menjelang hari raya tersebut tiba. Tapi pada perayaan hari raya idul fitri kali ini, hal itu tidak dilakukannya. Lho kok bisa ? Bukankah sudah lazim bagi para ibu-ibu melakukan  pekerjaan itu ?

Masalahnya bukan lazim atau tidak. Pada perayaan lebaran kali ini saya dan istri bersepakat untuk mengganti menu khas perayaan sekali setahun tersebut. Kalau pada perayaan-perayaan lebaran sebelumnya, ketupat dan opor ayam selalu menjadi pilihan utama, kali ini kami ganti dengan masakan khas Sumbawa; nasi putih dan SINGANG. Sengaja saya tulis SINGANG dalam huruf besar untuk memberi penghargaan pada salah satu racikan kuliner khas SUKU/TAU SAMAWA [sebutan untuk orang sumbawa] tersebut. Nah karena tidak banyak orang, termasuk istri saya yang kental dengan Jawa Timur-nya, bisa membuat masakan favorit saya ini, akhirnya tugas ekstra sehari menjelang perayaan lebaran tersebut dilimpahkan kepada saya. Saya lakukan ’tugas mulia’ ini dengan penuh suka cita mulai dari berburu bahan dan bumbu hingga meraciknya. Tak tanggung-tanggung, untuk urusan bahan dan bumbu, saya rela bergerilya ke hampir semua pasar induk tradisional di kota Balikpapan, termasuk ‘ndelusup’ ke ladang tetangga sekitar 10 kilometer dari rumah kami demi memperoleh bumbu khas sumbawa; dun ARU, RUKU atau KEMANGI [Pohon ARU tergolong naman keras, berduri dan memiliki daun seperti daun asam. Sedangkan RUKU hampir sama dengan KEMANGI, cuma daunnya lebih kecil dan memiliki aroma yang berbeda daripada KEMANGI]. Walupun usaha ekstra telah dilakukan, saya hanya bisa memperoleh daun KEMANGI. Itu pun saya dapati di salah satu pasar induk tradisional dekat tempat tinggal kami.

Seperti apa sih sebenarnya SINGANG tersebut ? SINGANG versi keluarga kami bisa jadi sedikit berbeda dengan SINGANG yang dibuat di tempat-tempat lain bila dilihat dari bahan, bumbu dan cara membuatnya. Dari hasil penelusuran saya melalui mesin pencari ‘google’ saya menemukan sedikitnya dua situs yang menjelaskan tentang masakan favorit saya tersebut. Yang pertama, sedikit tidak formal, yang dimuat di sebuah blog; http://godager.multiply.com/recipes/item/6/Singang_Salmon. Dalam situs ini, penulis menyebutkan bahan dan bumbu singang tersebut ditambah sedikit uraian cara meraciknya sebagai berikut ; Ingredients: Salmon, kunyit, Bawang merah, bawang putih, asam jawa, gula dan garam. Directions: Ditumis aja. Sementara di situs yang lain; http://www.cybertokoh.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=1830, dikatakan kalau SINGANG atau masakan seperti SINGANG tersebut ternyata tidak hanya bisa ditemukan di Sumbawa atau dalam komunitas SUKU/TAU SAMAWA tetapi juga di tempat-tempat atau komunitas lain walaupun dengan penyebutan yang berbeda. Di dalam komunitas SUKU/TAU SAMAWA, misalnya, masakan yang selalu menggunakan kunyit sebagai pemanis warnanya itu  dinamakan SINGANG. Di Bima atau dalam komunitas DOU MBOJO [sebutan untuk orang Bima], SINGANG diganti namanya dengan PALMARA. Sementara di Lombok atau dalam komunitas suku SASAK, masakan tradisional ini sering disebut BUMBU RAJANG. Namun demikian, diantara sekian kesamaan yang dimiliki ketiga jenis kuliner tradisional yang berasal dari pulau Sumbawa dan Lombok tersebut, SINGANG, PALMARA dan BUMBU RAJANG masing-masing memilki kekhasan yang menjadi tambahan perbedaan, selain dari nama yang dimilikinya. Terlebih lagi SINGANG ala Balikpapan yang saya racik sendiri. Beberapa jenis bahan, bumbu dan cara mengolah atau membuatnya saya modifikasi sendiri supaya memberi rasa dan aroma yang ramai. Ini tentu bertujuan untuk mengakomodir minimal tiga macam ‘aliran rasa’ di dalam keluarga kami; Sumbawa, Jawa dan Balikpapan. Rasa kecut, pedas dan berminyak/bersantan tentu sudah sangat bersahabat dengan lidah saya sebagai orang yang lahir dan dibesarkan di Sumbawa tetapi tidak dengan istri saya yang memilih PECEL MADIUN sebagai makanan favoritnya. Demikian pula dengan anak-anak saya yang dibesarkan dengan asupan makanan yang memiliki begitu bayak varian sebagai konsekwensi dari tingal dan menetap di sebuah kota yang begitu heterogen seperti Balikpapan. 

Lalu, seperti apa SINGANG ala Balikpapan tersebut ? Untuk bahan, saya tetap mempertahankan keasliannya; IKAN LAUT SEGAR. Untuk ini saya pilih ikan kakap merah yang ukuran sedang. Beratnya sekitar 1 – 1.5 kilogram setiap satu ekor. Jangan memilih ukuran yang terlalu besar untuk ikan jenis ini karena kulitnya agak tebal dan cenderung berminyak. Atau di bagian-bagian tertentu, biasanya di bawah kepala atau di bagian perut terdapat banyak lendir. Selain ikan laut segar, bahan saya tambah dengan CABE HIJAU BESAR, DAUN KEMANGI dan DAUN KETELA MUDA. Tiga jenis bahan tambahan ini membuat SINGANG ala Balikpapan ini berbeda dengan SINGANG di tempat lain. Di Sumbawa, bahannya lebih minmalis dengan hanya menambah DAUN ARU walaupun di Senayan, kampung dimana saya dibesarkan, DAUN ARU biasanya dipakai untuk penambah rasa dan pemanis tampilan SEPAT [salah satu masakan tradisional khas Sumbawa].

Sementara untuk urusan bumbu, saya sangat berhati-hati mengingat rasa SINGANG ala Balikpapan tersebut berawal dari sini. Sedikit saja salah dalam menentukan takaran dan cara meraciknya, rasanya tentu akan tidak seperti yang saya harapkan; bisa mengakomodir minimal tiga jenis ‘aliran rasa’ dalam keluarga kami; Sumbawa, Jawa dan Balikpapan.

Ditunggu kelanjutannya ya….. !  Sementara menunggu, bagi yang masih kangen berat sama kampung halamannya di Sumbawa, silahkan dinikmati dulu suara merdu Yuni Shara dalam lagu Poto Tano berikut ini :

My virtualviews.wordpress.com is just another blog of mine in which I can share or you can read my perspectives on everything you might not think about. Themes or topics highlited in this weblog do not focus only on particular issues e.g. education or schooling system but also spread on others such as politics, economy, public policies, cultures, life styles and those commonly found in day-to-day lives. In addition, my experience or participation in any local, national and international events regarding my capacity as a teacher, educator and school principal also has a ’special space’ in this blog.

To broaden reader’s access and make it as an ‘arena’ where I can practice my second and third language, BAHASA INDONESIA and English are dominantly used in every text, message, article, essay, feature and any form of writing posted in this weblog. In writing particular themes, however, BAHASA SAMAWA [a local dialect spoken by sumbawaneses] will come up to enrich its contents and ’spoil’ hundreds, thousands even millions of sumbawanese language speaking readers. These are all I can dedicate to whom I’ll respect when once drop in and leave me some words in www.myvirtualviews.wordpress.com. Happy reading and blogging !

Syamsul Aematis Zarnuji – Owner  www.myvirtualviews.wordpress.com

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.