Saya begitu tergelitik melihat eforia ‘masyarakat kita’ yang begitu menggandrungi film laskar pelangi yang baru saja mulai ditayangkan di beberapa bioskop di tanah air beberapa waktu yang lalu. Saking tak tahan untuk berkomentar, tulisan tentang kuliner favorit saya yang belum sempat rampung harus saya tinggalkan untuk beberapa saat. Memangnya kenapa ? Ada apa dengan film laskar pelangi ?
Coba bayangkan, dalam dua minggu terakhir ini saja, sejak penayangan perdananya tangal 25 September 2008 lalu, film ini sudah mampu menyedot perhatian tidak kurang dari 1.3 juta penonton. Padahal itu baru dilakukan di beberapa kota saja dan dalam suasana disaat kebanyakan masyarakat kita disibukkan dengan kegiatan perayaan hari raya idul fitri 1429 H. Walaupun dalam suasana lebaran, banyak sekali kalangan mulai dari para ibu rumah tangga, anak-anak, pelajar, mahasiswa, pegawai, pejabat hingga selebriti papan atas yang rela merogoh koceknya plus antri berjam-jam bahkan berhari-hari untuk sekedar mendapatkan selembar tiket agar bisa menonton film yang katanya sangat membumi tersebut. ‘Kehebohan’ ini tidak serta merta berakhir sampai di situ. Tak tanggung-tanggung, tokoh sekelas presiden Susilo Bambang Yudoyono pun plus para menterinya masih menyempatkan diri menonton film yang diakuai beberapa kalangan tidak ‘semolek’ cerita dalam buku darimana film ini diangkat [baca : http://entertainment.kompas.com/read/xml/2008/10/09/e081428/laskar.pelangi.tembus.13.juta.penonton, http://www.detiknews.com/read/2008/09/28/192420/1013856/10/film-laskar-pelangi-tak-kalah-laris-dengan-novelnya, http://laskarpelangithemovie.blogspot.com/, http://almaokay.wordpress.com/2008/05/30/casting-film-laskar-pelangi-halahkok-dia-lagi/, http://manda.getux.com/2008/09/26/gak-begitu-suka-film-laskar-pelangi/ dan beberapa komentar di berbagai blog dan milis beberapa hari terakhir ini]. Lalu apa sebenarnya yang membuat film yang diproduksi oleh istri aktor kondang Mathias Mucus ini begitu digandrungi ?
Jujur, saya belum pernah membaca novel tulisan Andrea Hirata yang menjadi inspirasi sekaligus referensi pembuatan film Laskar Pelangi itu. Saya juga belum pernah menonton film tersebut karena memang saya tidak ingin dan tak akan tergoda untuk menontonnya. Tetapi bukan berarti saya tidak tau ‘ruh’ dan pesan yang ingin disampaikannya. Dari berbagai resensi dan sinopsis yang pernah saya baca serta berbagai diskusi yang saya ikuti di beberapa media terkait dengan baik novel maupun film Laskar Pelangi, saya bisa menangkap kalau ‘ruh’ dan pesan moral yang ingin disampaikan dalam karya ‘fenomenal’ tersebut tak lebih dan tak kurang bahwa di balik hiruk pikuk, riuh rendah, suka cita dan ‘kegelamoran’ kehidupan anak negeri di berbagai kota besar di republik ini, nun jauh di sana, di pelosok bumi nusantara ini masih ada sekolompok anak negeri yang lain [para guru dan siswanya] yang dengan segala keterbatasan secara materiil namun tetap memilki idealisme, dedikasi dan semangat juang yang pantang menyerah untuk berbuat lebih baik bagi kemajuan pendidikan mereka. Oleh karenanya, dengan ini, kita diharapkan menjadi lebih sadar akan betapa pentingnya pendidikan bagi negeri ini, terlebih lagi bagi masyarakat Belitong yang miskin dan terpinggirkan [baca : http://id.wikipedia.org/wiki/Laskar_Pelangi_(film) dan http://www.kompas.com/read/xml/2008/09/22/20302997/andrea.hirata.takjub.film.laskar.pelangi].
Menelisik ‘ruh’ dan pesan moral yang ingin disampaikan dalam film yang digarap oleh sutradara yang pernah menerima ‘chevening award’ tersebut, tanpa mengurangi rasa hormat dan kekaguman saya pada Andrea Hirata, Mira Lesmana, Riri Riza, dll, saya sejauh ini belum menemukan sesuatu yang baru yang untuk ukuran kesederhanaan dan kefafaan hidup masa kecil saya akan mampu menarik saya larut dalam ‘story plotting’ yang ingin dipertontonkannya. Cerita pengabdian seorang guru, perjuangan seorang anak dengan segala kekurangan dan kefafaan demi sebuah pendidikan seperti digambarkan dalam film Laskar Pelangi tersebut bukan lagi menjadi ‘barang mewah’ bagi saya, keluarga saya dan komunitas dimana saya menghabiskan masa kecil saya. Ia bukan lagi tertoreh hanya di atas kertas atau menjelma di layar kaca sebagaimana film Laskar Pelangi tetapi telah menjadi salah satu episode dalam kehidupan saya, keluarga saya dan komunitas dimana saya sekolah dulu. Ia telah menjadi bagian dan mengisi sisi-sisi kehidupan bahkan masuk dalam relung kalbu saya yang tidak akan pernah terlupakan sampai akhir hayat saya dengan atau tanpa kehadiran film Laskar Pelangi sekalipun. Itulah mengapa ‘ruh’ cerita yang dipertontonkan dalam film Laskar Pelangi terasa hambar buat saya bahkan mungkin buat anak-anak yang saat ini mengalami hal yang sama seperti saya atau tokoh-tokoh dalam film Laskar Pelangi tersebut. Bagi saya dan mungkin juga bagi orang-orang yang telah melewati fase kehidupan seperti dikisahkan dalam film Laskar Pelangi, mengikuti dan menonton ‘story plotting’ film tersebut tak akan lebih dari sebuah kegitan bernostalgia di alam maya saja. Singkatnya, sejauh ini saya belum punya cukup alasan untuk tergoda membeli selembar tiket apalagi harus antri berjam-jam hanya untuk bisa menyaksikan kemolekan akting Cut Mini, Matias Muchus, Tora Sudiro, dll. dalam balutan cerita masa kecil saya itu.
Mungkin ada yang beralasan bahwa menonton film Laskar Pelangi akan membuat kita menjadi lebih sadar akan betapa pentingnya pendidikan di negeri ini. Ia bisa menjadi inspirasi bagi kita dalam memahami dan berbuat untuk kemajuan pendidikan kita. Alasan ini tentu tidak salah namun terlalu naif kalau penyadaran akan arti pentingnya sebuah pendidikan harus ditemukan hanya dalam sekelumit cerita yang sejatinya telah menjadi bagian hidup kita sehari-hari. Coba tengok di sekitar kita, sesungguhnya masih ada, kalau tidak mau disebut banyak, guru-guru kita yang menjalani alur hidupnya seperti yang dilakukan Ibu Mus. Coba juga lihat, buka mata dan telinga kita, begitu banyak anak-anak yang menjalani hidupnya serupa dengan apa yang dilakukan oleh anak-anak sekolah dalam film Laskar Pelangi tersebut. Ini bukan mimpi. Ini bukan torehan tinta. Ini juga bukan hasil kreasi anak negeri dengan berbagai teknologi yang memerlukan biaya tinggi. Tapi ini sebuah realita, sesuatu yang nyata dan dapat kita rasakan dan lihat dengan kasat mata saat ini. Mengapa penyadaran itu harus dicari dalam sebuah bingkai sinematografi sementara apa yang ditayangkan dalam film tersebut telah ada bahkan berserakan di sekeliling kita. Sungguh sebuah ironi !
Lebih jauh daripada itu, bukankah kesadaran akan arti pentingnya pendidikan itu telah dimiliki oleh hampir setiap ummat manusia yang hidup di kosmos bumi ini ? Coba tanya orang di sekeliling anda, jangankan orang berpendidikan, orang yang tidak pernah duduk di bangku SD-pun akan mengatakan hal yang sama ketika ditanya seberapa penting arti pendidikan bagi mereka. Dari bapak-ibu pejabat kita, pegawai tinggi, pegawai rendahan, tukang ojek hingga kuli bangunan di negeri ini akan mengelaborasi jawaban yang kurang lebih sama bahwa pendidikan itu amat penting bagi mereka, anda dan negeri tercinta ini. Jawaban ini menunjukkan bahwa mereka telah sadar akan arti pentingnya pendidikan tanpa terlebih dahulu disuguhkan dengan tayangan-tayangan seperti film laskar pelangi. Yang menjadi permasalahan kemudian adalah terlalu sedikit dari penguni kosmos bumi Indonesia ini yang mau dan mampu mengambil langkah nyata yang benar dalam menyikapi arti pentingnya pendidikan bagi kelangsungan hidup mereka dan generasai yang akan ditinggalkannya kelak di negeri ini. Bisakah Laskar Pelangi menjadi ‘pemantik’ api perubahan bagi komunitas seperti ini ? Wallahualam Bissawaf.
Kembali ke soal kegandrungan ‘masyarakat kita’ memonton film Laskar Pelangi, juga film-film sejenis yang sedikit berani keluar dari ‘pakem’ kebanyakan, saya melihat hal ini tidak semata-mata dikarenakan oleh kualitas penyuguhan karya sinematografi tersebut yang merupakan hasil kreasi dari sineas-sineas muda terbaik di negeri ini. Juga bukan saja karena alur ceritanya yang membumi yang katanya mampu memberi inspirasi yang luar biasa itu. Tapi lebih jauh daripada itu, ‘provokasi’ media massa telah mampu memberi kontribusi yang ‘cukup’ dahsyat bagi ‘kegandrungan masyarakat kita tersebut’ [baca : http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/28/02122926/hasrat.bertutur.laskar.pelangi]. Media massa telah mampu memainkan peran strategisnya dalam pembentukan opini publik terhadap kehadiran film Laskar Pelangi dan karya-karya sinematografi sejenis lainnya. Kemampuan komunikasi penulis, produser, sutradara yang diback-up oleh promosi dan iklan di media massa telah mampu mengantarkan film Laskar Pelangi, Ayat-Ayat Cinta, Petualangan Sherina, dll. menjadi sebuah karya yang ‘digandrungi’ oleh sebagian besar masayarakat kita walupun hanya menyuguhkan ide cerita yang biasa-biasa saja. Ketajaman ‘business sense’ yang dimainkan oleh para kru yang terlibat dalam pembuatan film-film tersebut telah mampu, pada tingkat yang paling tinggi, memunculkan sebuah kefanatikan yang dapat kita lihat, dengar atau baca dalam ungkapan ‘ kalau anda tidak nonton film ini, anda kuno, anda ketinggalan jaman, anda katrok, anda jadul’ dan anda… dengan berbagai elemen yang serba keterbelakangan.
Selain ‘provokasi’ media massa, keletihan dan kedahagaan masyarakat kita terhadap berbagai tontonan dan tayangan yang cenderung monoton dan homogen seperti yang kita bisa saksikan selama ini telah memicu hasrat mereka untuk beralih kepada hal-hal yang baru yang keluar dari pakem tersebut. Komunitas masyarakat ini sangat mendambakan film-film yang mampu memberi mereka sesuatu yang berbeda yang bisa jadi memberi inspirasi untuk menjadi lebih baik. Dalam konteks ini, hemat saya, film Laskar Pelangi telah mampu menjadi salah satu pemenuhan hasrat ‘pengembaraan’ mereka.
All in all, dalam takaran-takaran tertentu, budaya hedonistik telah menjangkit sebagian masyarakat kita yang selalu dahaga akan kesenangan sesaat. Ketika sebuah karya apapun bentuknya mampu memberikan kesenangan walaupun hanya sebatas bernostalgia dengan masa lalunya sesaat saja atau berimajinasi untuk melakukan sesuatu dalam hidupnya maka berbagai usaha mereka lakukan demi mendapatkan hal tersebut. Untuk sebuah karya seni seperti film Laskar Pelangi atau film-film yang lainnya tentu tetap masih memberi peluang bagi kelompok masyarakat seperti ini untuk menggandrungi hal tersebut.
Terlepas dari ketidaktertarikan saya untuk menonton film yang dibintangi oleh salah satu aktor favorit saya tersebut, saya angkat topi dan salut buat seluruh kru yang telah bekerja keras mewujudkan sebuah karya seni anak negeri yang berani tampil berbeda dengan karya seni sejenis lainnya. Seperti halnya saya yang dengan segala berat hati bisa jadi berbeda pandangan dengan sebagian besar penduduk negeri ini terhadap sebuah fenomena sosial dalam dunia sinematografi kita. Semoga bermanfaat.
Balikpapan, 09 Oktober 2008
Syamsul Aematis Zarnuji-Owner www.myvirtualvews.wordpress.com